Mengelola Konflik Secara Efektif

MENGELOLA KONFLIK SECARA EFEKTIF

Konflik dalam lingkungan kerja tidak dapat dihindari. Pimpinan yang mampu mengelola konflik dengan baik akan mampu menciptakan lingkungan kerja yang harmonis, meningkatkan produktivitas tim, dan memastikan bahwa setiap pegawai merasa dihargai dan didengarkan. Dalam dunia kerja yang dinamis dan penuh tantangan, keterampilan ini tidak hanya penting untuk menjaga stabilitas tim, tetapi juga untuk mendorong inovasi dan kolaborasi yang efektif.

Dengan mengembangkan kemampuan menangani konflik, pemimpin dapat mengambil langkah proaktif dalam mencegah dan menyelesaikan perselisihan, mengurangi tingkat stres di tempat kerja, dan memupuk hubungan kerja yang positif.

Konflik adalah perselisihan antar pihak yang terjadi karena adanya perbedaan kepentingan, gagasan, keyakinan, nilai-nilai, dan tujuan. Pada umumnya, konflik bukanlah pengalaman yang menyenangkan dan dapat menyebabkan pegawai merasa tidak nyaman serta cenderung berusaha menghindarinya. 

Konflik dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :

  • Perbedaan kepribadian/ personalitas.
  • Perbedaan gaya komunikasi
  • Perbedaan nilai-nilai.
  • Perbedaan persepektif atau sudut pandang.
  • Perbedaan tujuan.
  • Perbedaan kepentingan departemen.
  • Perbedaan budaya.

Menyadari pentingnya mengelola konflik secara efektif, Kenneth Thomas dan Ralph Kilmann mengembangkan model strategi mengelola konflik yang didasarkan pada dua dimensi utama, yaitu kooperatif dan asertif, yang menjadi dasar dalam mengelola konflik.

Model Thomas-Kilmann tidak hanya membantu pegawai memahami preferensi mereka dalam menangani konflik tetapi juga menawarkan cara untuk mengadaptasi pendekatan mereka sesuai dengan konteks dan kebutuhan situasi tertentu. 

5 strategi dalam mengelola konflik tersebut adalah:

  1. Asertif Tinggi dan Koperatif Rendah, disebut dengan Competing / Kompetisi
  2. Asertif Tinggi dan Koperatif Tinggi, disebut dengan Collaborating / Kolaborasi
  3. Asertif Rendah dan Koperatif Rendah, disebut dengan Avoiding / Pengabaian
  4. Asertif Rendah dan Koperatif Tinggi, disebut dengan Accomodating / Akomodasi
  5. Asertif Sedang dan Koperatif Sedang, disebut dengan Compromising / Kompromi

Mengelola konflik dengan tepat memerlukan pemahaman yang mendalam tentang situasi yang dihadapi serta kemampuan untuk memilih dan menerapkan strategi yang paling sesuai dengan konteks tersebut. Hal ini berarti tidak hanya memahami dinamika konflik, termasuk penyebab dan dampaknya, tetapi juga mengenali perbedaan pegawai dalam gaya komunikasi, kepentingan yang terlibat, dan tingkat urgensi dari penyelesaian masalah.

Pemimpin yang menghadapi konflik harus fleksibel dan mampu beradaptasi, memahami kapan harus mengambil pendekatan yang lebih tegas dan kapan lebih baik untuk mengakomodasi kebutuhan pihak lain. Dengan demikian, mengelola konflik bukan hanya tentang menemukan solusi jangka pendek, tetapi juga tentang membangun hubungan yang lebih kuat dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk kerja sama dan produktivitas jangka panjang. 

Sukses selalu buat Anda dan tim!

20 Juni 2024
Cakrajono Lawoto
Director of Learning & Development @Sarel Sentra Inspira


Email: sarel@sarel.co.id
Phone: (021) 4517458/ 458509571
Mobile: 0878-7722-4521
Website: www.sarel.co.id

©2025 PT Sarel Sentra Inspira. All Rights Reserved